Senin, 02 Februari 2026

Laporan Observasi Perkembangan Trichoderma

Laporan Observasi Perkembangan Trichoderma spp. (KPG)
Hari ke-7 Pasca-Inokulasi  
Tanggal Pengamatan: 2 Februari 2026 
Media: SDA
Label:  Inokulasi: 26 Januari 2026
---
 Kondisi Umum Hari Ini
Semua cawan petri menunjukkan pertumbuhan Trichoderma yang telah mencapai fase pematangan penuh. Koloni telah menutupi seluruh permukaan media (±9 cm diameter) dan berada pada puncak produksi konidia. Tidak terdapat tanda kontaminasi oleh mikroba lain.

🔬 Ciri Morfologis yang Teramati
- Mycelium: Hampir tidak terlihat lagi karena tertutup rapat oleh lapisan konidia.
- Konidiasi:  
  - Seluruh permukaan koloni tampak berdebu halus dengan warna hijau tua keabu-abuan, khas untuk isolat Trichoderma yang matang.  
  - Beberapa cawan menunjukkan sedikit perubahan warna di bagian tepi (hijau muda), mengindikasikan pertumbuhan masih aktif meski melambat.
- Tekstur: Permukaan kering, tidak berlendir, tanpa eksudat menandakan kondisi kultur sehat dan tidak stres.

💡 Catatan penting: Fase ini merupakan waktu ideal untuk panen spora  jika belum dilakukan sebelumnya. Meskipun sudah memasuki hari ke-7, viabilitas spora masih sangat tinggi asalkan media tidak mengering berlebihan.

---

📌 Rekomendasi Tindakan (2 Februari 2026)
1. Segera Panen Spora (jika belum):  
   - Gunakan larutan Tween 80 0,05% untuk melepaskan konidia.  
   - Hitung konsentrasi spora (target: ≥10⁷–10⁸ spora/mL untuk formulasi efektif).

2. Simpan Stok Induk:  
   - Simpan 2–3 cawan sebagai kultur cadangan pada suhu 4°C (dibungkus parafilm) untuk subkultur berikutnya dalam 2–3 minggu.

3. Evaluasi Viabilitas: 
   - Jika cawan mulai mengering atau warna hijau memudar menjadi abu-abu pucat, artinya fase optimal telah lewat — segera proses.

---
Penutup
Pertumbuhan Trichoderma KPG pada hari ke-7 (2 Februari 2026) menunjukkan kualitas kultur yang sangat baik dan siap untuk aplikasi lebih lanjut. Isolat ini layak digunakan sebagai agens hayati dalam program pengendalian hayati di lingkungan kantor atau lahan pertanian terkait.

Jumat, 30 Januari 2026

observasi perkembangan APH Trichoderma hasil eksplorasi Kupang

laporan observasi perkembangan Trichoderma spp. pada media kultur (SDA)

---
Laporan Observasi Perkembangan *Trichoderma spp. (KPG)
*Tanggal Inokulasi: 26 Januari 2026 
*Tanggal Pengamatan: 28 Januari 2026 (Hari ke-2 pasca-inokulasi)*  
*Media: SDA
*Label Sampel: Peremajaan Tricho KPG

Deskripsi Umum
Sebanyak 10 cawan petri telah diinokulasikan dengan isolat Trichoderma spp. (disebut “KPG”) pada tanggal 26 Januari 2026. Pengamatan dilakukan pada hari ke-1 (27 Januari) dan hari ke-2 (28 Januari 2026). 
---
Hasil Pengamatan
Hari ke-1 (27 Januari 2026)  
- Koloni Trichoderma mulai tumbuh sebagai bercak putih berbulu halus (mycelium vegetatif), berpusat di titik inokulasi.
- Terdapat beberapa fokus kecil berwarna hijau kebiruan (khas konidiofor dan konidia Trichoderma), terutama di bagian tengah koloni.
- Diameter rata-rata koloni: ~1.5–2 cm.
- Permukaan media masih jernih, tanpa kontaminasi jamur lain yang signifikan.

Hari ke-2 (28 Januari 2026)
- Pertumbuhan mycelium sangat pesat: koloni telah menyebar hingga ~3.5–4.5 cm diameter (mencapai 60–70% permukaan cawan).
- Warna koloni dominan putih krem (mycelium muda), dengan area sentral yang semakin intens berwarna hijau tua kebiruan  menandakan produksi konidia masif (sporulation aktif).
- Beberapa cawan menunjukkan pola pertumbuhan tidak simetris (misalnya: koloni lebih cepat ke satu arah), kemungkinan akibat variasi suhu, kelembaban lokal, atau posisi inokulasi.
- Tidak terdeteksi kontaminasi oleh mikroba lain (tidak ada bercak kuning, merah, hitam, atau lendir berlebih yang mengindikasikan bakteri atau jamur pengganggu).
- Pada cawan tertentu (misalnya cawan paling kiri atas), koloni tampak sedikit lebih lambat berkembang — perlu dipantau lebih lanjut untuk evaluasi viabilitas isolat.
Interpretasi & Catatan Teknis
- Pola pertumbuhan sesuai karakteristik Trichoderma spp.: cepat, bermycelium padat, dan berkonidiasi hijau khas dalam 48–72 jam pada suhu ruang (25–28°C).
- Warna hijau kebiruan yang konsisten di pusat koloni mengonfirmasi bahwa isolat ini aktif menghasilkan konidia, sehingga siap untuk:
  - Produksi biomassa (untuk formulasi biopestisida/biofertilizer),
  - Subkultur ulang,
  - Uji antagonisme terhadap patogen (misalnya Fusarium, Rhizoctonia).
- Label “Peremajaan Tricho KPG (Hasil Eksplorasi Aph Trichoderma dari tanah di kota Kupang yang sebelumnya pernah diaplikasikan Trichoderma)” mengindikasikan bahwa ini adalah tahap revitalisasi kultur murni sebelum digunakan dalam aplikasi lapangan.
---

Rekomendasi Lanjutan
1. Harvesting Konidia: Jika tujuan adalah produksi spora, panen dapat dilakukan pada hari ke-3 hingga ke-4, saat warna hijau maksimal dan permukaan koloni tampak berdebu (konidial powder).
2. Subkultur: Untuk menjaga viabilitas jangka panjang, lakukan subkultur ke media baru setiap 2–3 minggu.
3. Identifikasi Spesifik: Untuk kepastian taksonomi, disarankan uji molekuler (ITS sequencing) atau mikroskopis (bentuk konidiofor, konidia, chlamydospore).
4. Catatan Log: Simpan data waktu pertumbuhan, diameter koloni harian, dan kondisi inkubasi (suhu, kelembaban) untuk referensi replikasi.

pengamatan dan indentifikasi serangan hama dan penyakit pada tanaman terung

Pengamatan Serangan Hama pada Tanaman Terung
Halaman Kantor – Tanggal: 30 Januari 2026  
Umur Tanaman: ±3–4 bulan

 Kondisi Umum Tanaman
Tanaman terung (Solanum melongena) yang ditanam di halaman kantor menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang cukup baik (daun hijau, batang tegak), namun sejumlah buah mengalami kerusakan signifikan akibat serangan hama. Kerusakan terutama terjadi pada buah yang berada pada tahap mengeras hingga matang, dengan gejala khas yang mengarah pada serangan larva penggerek buah (kemungkinan besar Leucinodes orbonalis— penggerek buah terung, atau Eggplant Fruit Borer).

---
Gejala Kerusakan yang Diamati
1. Kerusakan Eksternal
   - Permukaan buah menunjukkan bercak cokelat kehitaman, mengkilap, dan lunak (berair), sering kali disertai lapisan jamur sekunder (berwarna putih-kuning kecokelatan).
   - Adanya lubang kecil (diameter ~1–2 mm) pada kulit buah, yang merupakan pintu masuk larva.
   - Kulit buah tampak mengelupas atau melekat longgar di area kerusakan.

2. Kerusakan Internal (terlihat pada buah yang dipotong):
   - Rongga besar di dalam daging buah, berisi jaringan yang membusuk, berwarna cokelat gelap, dan berstruktur rapuh/berlubang-lubang.
   - Terdapat sisa-sisa kotoran larva (frass) berupa butiran kecil berwarna cokelat kehitaman.
   - Dalam beberapa kasus, larva masih terlihat aktif di dalam rongga (meskipun tidak tertangkap dalam foto, kehadirannya diduga kuat dari pola kerusakan dan lubang masuk).

3. Perbandingan Buah Sehat vs. Terserang:
   - Foto memperlihatkan dua buah berdampingan: satu masih utuh (hanya sedikit bercak awal), satu lainnya sudah parah rusak.
   - Pada buah yang tergantung di pohon (foto terlampir), terlihat buah yang sudah mengkerut dan membusuk di ujung, sementara buah sebelahnya masih tampak sehat menunjukkan bahwa serangan bersifat sporadik namun progresif.

---
Analisis & Diagnosis Awal
Berdasarkan gejala klinis:
- Pola kerusakan (lubang kecil → rongga internal berisi frass + pembusukan) sangat khas untuk serangan Leucinodes orbonalis (penggerek buah terung), hama utama pada solanaceae di wilayah tropis.
- Kemungkinan lain: Phthorimaea operculella (kupu-kupu kentang) atau Helicoverpa armigera, namun gejala lebih sesuai dengan L. orbonalis karena lokasi serangan dominan pada buah matang dan bentuk rongga yang memanjang mengikuti sumbu buah.
- Faktor pendukung: kelembaban tinggi di halaman (terlihat dari latar belakang rumput lebat & kondisi tanah lembab), serta kurangnya pengelolaan sanitasi (buah busuk dibiarkan tergantung/menempel di tanaman).

---
Rekomendasi Tindak Lanjut
1. Sanitasi Darurat:
   - Segera panen semua buah sehat yang siap.
   - Musnahkan seluruh buah terserang (bakar atau kubur dalam kedalaman >30 cm) untuk memutus siklus hidup hama.

2. Pengendalian Hayati & Kimiawi:
   - Semprotkan Bacillus thuringiensis (Bt) setiap 5–7 hari pada buah muda dan bunga.
   - Jika serangan berat, gunakan insektisida berbahan aktif spinosad atau chlorantraniliprole (dengan rotasi bahan aktif untuk hindari resistensi).
   - Pasang perangkap feromon untuk memantau populasi imago.

3. Pencegahan Jangka Panjang:
   - Lakukan crop rotation jika lahan memungkinkan.
   - Gunakan mulsa plastik hitam untuk mengurangi kelembaban permukaan tanah.
   - Perkuat pemantauan rutin (minimal 2x/minggu) pada fase pembungaan dan pengisian buah.

---
Catatan Penting
Serangan ini berpotensi menyebar cepat jika tidak ditangani segera, mengingat umur tanaman sudah memasuki fase produksi maksimal. Kualitas buah yang tersisa masih bisa dipertahankan dengan tindakan cepat dan tepat.

Senin, 17 November 2025

Pengamatan Hasil Perbanyakan Massal Trichoderma

Hari ini dilakukan pengamatan terhadap hasil perbanyakan massal Trichoderma yang telah dikemas dalam kantong plastik bening ukuran 1 kg dan diberi label untuk keperluan distribusi dan aplikasi di lapangan. Pengemasan ini merupakan tahap akhir dari proses produksi APH (Agen Pengendali Hayati) berbasis mikroba lokal, guna memudahkan penyimpanan, pendistribusian, dan penggunaan oleh petani.

Pada permukaan bagian dalam kantong plastik terlihat butiran-butiran air seperti embun, yang merupakan fenomena kondensasi uap air. Hal ini terjadi karena:

  • Selama proses fermentasi padat (yakni menggunakan dedak dan sekam sebagai media), Trichoderma melakukan aktivitas metabolik yang menghasilkan panas dan uap air.
  • Meskipun fermentasi sudah selesai, mikroorganisme masih dalam kondisi aktif dan respirasi mikroba terus berlangsung, menghasilkan kelembaban dalam bentuk uap.
  • Ketika uap tersebut bertemu dengan dinding plastik yang lebih dingin (karena suhu lingkungan lebih rendah), maka terjadilah pengembunan (kondensasi), membentuk tetesan air di bagian dalam kemasan.

Kondensasi seperti ini termasuk hal yang wajar dan justru menjadi indikator bahwa:

  1. Mikroba masih aktif dan hidup. Aktivitas metabolik menghasilkan uap air.
  2. Kelembaban media masih terjaga. Kondisi lembab sangat penting untuk menjaga viabilitas Trichoderma selama penyimpanan.
  3. Proses fermentasi berlangsung baik tanpa kontaminasi berat.

Namun, perlu diperhatikan:

  • Jika jumlah air terlalu banyak, bisa menyebabkan pembusukan atau pertumbuhan bakteri/kapang tidak diinginkan.
  • Warna kultur harus tetap hijau kehijauan (spora Trichoderma) tanpa bercak hitam, merah, atau lendir kuning mencurigakan.
  • Aroma tidak busuk atau menyengat, melainkan asam ringan khas fermentasi.

📌 Rekomendasi Penyimpanan

Untuk menjaga kualitas produk:

  • Simpan kemasan di tempat kedap cahaya, sejuk, dan berventilasi baik.
  • Hindari penyimpanan terlalu lama; gunakan dalam waktu 2–4 minggu setelah produksi.
  • Jika akan disimpan lebih lama, bisa dikeringkan secara perlahan atau disimpan di suhu rendah (tetapi tidak dibekukan).

Kesimpulan

Adanya butiran air seperti embun di dalam kemasan Trichoderma adalah fenomena alami akibat aktivitas respirasi mikroba dan perbedaan suhu. Asalkan tidak disertai tanda-tanda kerusakan (bau busuk, warna aneh, kontaminasi), kondisi ini menunjukkan bahwa produk masih aktif dan berkualitas baik untuk digunakan sebagai agens hayati dalam mendukung pertanian organik dan berkelanjutan.



Kamis, 23 Oktober 2025

Identifikasi Mikoriza

 Saat kita melihat tanaman lombok yang tumbuh subur, seringkali fokus hanya pada daun, batang, dan buahnya. Namun, ada dunia tersembunyi yang bekerja keras di balik layar — di akar tanaman, tempat sebuah simbiosis luar biasa sedang berlangsung: Mikoriza.

Hari ini, saya ingin berbagi hasil pengamatan mikroskopis dari irisan akar lombok yang telah diwarnai menggunakan teknik pewarnaan standar, untuk mengetahui apakah jamur Mikoriza sudah membentuk hubungan simbiosis dengan tanaman.


🔍 Apa Itu Mikoriza?

Mikoriza adalah asosiasi simbiotik antara jamur tanah dan akar tanaman. Jamur ini memperluas jaringan akar secara alami, membentuk "jaringan internet tanah" yang membantu tanaman menyerap air dan hara — terutama fosfor, yang sulit larut dalam tanah. Sebagai imbalannya, tanaman memberikan karbohidrat hasil fotosintesis kepada jamur.

Dalam pertanian organik dan berkelanjutan, keberadaan Mikoriza adalah indikator utama kesehatan tanah dan sistem ekologi yang seimbang.


📸 Hasil Pengamatan Mikroskopis

Pada gamnar  yang adalah hasil pengamatan dari irisan melintang akar lombok yang telah diwarnai untuk menonjolkan struktur jamur. Apa yang tampak?

  • Terlihat struktur benang-benang halus berwarna biru tua/hijau kebiruan yang menyebar di antara sel-sel korteks akar.
  • Beberapa hifa bahkan tampak menembus dinding sel dan masuk ke dalam sitoplasma, ciri khas dari kolonisasi jamur Mikoriza arbuskular (AMF).
  • Pola percabangan dan distribusi hifa sangat konsisten dengan aktivitas Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF), jenis Mikoriza yang paling umum pada tanaman pertanian seperti lombok.

Artinya: Ya, ada indikasi kuat keberadaan Mikoriza!

Namun, perlu dicatat bahwa untuk konfirmasi definitif, kita harus mencari struktur spesifik seperti:

  • Arbuskula: struktur bercabang seperti pohon kecil di dalam sel akar (tempat pertukaran nutrisi).
  • Vesikula: struktur bulat sebagai penyimpanan energi oleh jamur.

Struktur-struktur ini belum terlihat jelas dalam gambar, mungkin karena resolusi, sudut pandang, atau tahap kolonisasi yang masih awal.


Apakah Ini Benar-Benar Mikoriza?

Berdasarkan morfologi dan pola penyebaran, sangat besar kemungkinan ini adalah Mikoriza, bukan kontaminan atau jamur dekomposer biasa. Ciri-ciri berikut mendukung identifikasi ini:

  1. Hifa masuk ke dalam jaringan akar, bukan hanya di permukaan.
  2. Pertumbuhan intraseluler menunjukkan interaksi aktif antara jamur dan sel tanaman.
  3. Pewarnaan berhasil menonjolkan jaringan jamur dalam jaringan hidup, bukan sekadar residu di luar akar.

Tapi, karena ini baru satu bidang pandang, kita belum bisa menyimpulkan 100% tanpa analisis lebih lanjut.


🛠️ Langkah Selanjutnya

Untuk memastikan dan mengukur tingkat kolonisasi, disarankan:

  1. Lakukan pengamatan di bidang pandang yang berbeda.
  2. Lakukan penyaringan bertingkat.
  3. Lakukan pengecatan akar.
  4. Gunakan kontrol positif dan negatif jika memungkinkan (tanaman yang dipastikan terkolonisasi dan tidak terkolonisasi).

🌱 Mengapa Ini Penting Bagi Petani?

Keberadaan Mikoriza berarti:

  • Tanah masih memiliki aktivitas biologis yang baik.
  • Tanaman lebih efisien menyerap hara, sehingga bisa mengurangi pupuk kimia.
  • Ketahanan terhadap stres lingkungan (kekeringan, penyakit) meningkat.
  • Sistem pertanian mulai menuju kemandirian ekologis.

Jika menemukan Mikoriza di lahan, itu adalah tanda bahwa tanah masih “hidup” — dan itu adalah kabar gembira!


💬 Penutup

Temuan ini adalah angin segar bagi upaya penerapan pertanian berbasis hayati di NTT. Melihat Mikoriza tumbuh di akar lombok berarti bahwa praktik budidaya yang ramah lingkungan — seperti penggunaan pupuk organik, rotasi tanaman, dan minimnya pestisida — sudah mulai membuahkan hasil nyata di tingkat mikroskopis.

Mari terus dorong pertanian yang tidak hanya produktif, tapi juga harmonis dengan alam.


 








Selasa, 21 Oktober 2025

Hasil Perbanyakan Trichoderma di Kelompok Tani Nekemolo

 Halo teman-teman pecinta pertanian dan penggiat pertanian organik!

Kali ini saya ingin berbagi cerita sukses yang sangat menggembirakan — hasil perbanyakan Trichoderma lokal yang baru saja kami lakukan bersama petani di Kelompok Tani Nekemolo, Desa Taebenu, Kabupaten Kupang, sebagai bagian dari pelatihan APH (Agen Pengendali Hayati) pada tanggal 16 Oktober 2025.

🌱 Apa Itu Trichoderma?

Bagi yang belum tahu, Trichoderma adalah jamur bermanfaat yang hidup di tanah dan dikenal sebagai “penjaga akar” karena kemampuannya menyerang dan menghambat pertumbuhan jamur patogen penyebab penyakit tanaman, seperti Fusarium, Rhizoctonia, dan Pythium. Selain itu, Trichoderma juga bisa merangsang pertumbuhan akar dan meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman — jadi benar-benar “superhero” alami di dunia pertanian!


📅 Proses Perbanyakan: 16–20 Oktober 2025

Setelah pelatihan teori dan praktik langsung di lapangan, para petani mulai mempraktikkan perbanyakan Trichoderma menggunakan media sederhana seperti dedak, Serbuk gergaji dan beras. Media ini disterilkan menggunakan pemanasan (dikukus) selama kurang lebih 4-5 jam lalu diinokulasi dengan kultur murni Trichoderma dan disimpan di tempat teduh selama 4-7 hari.

Dan inilah hasilnya:

Dari putih kehijauan… menjadi hijau tua yang lebat!

Foto-foto di bawah ini menunjukkan perkembangan koloni Trichoderma dari hari ke hari. Pada hari pertama (16 Oktober), pertumbuhan masih sedikit dan berwarna putih kehijauan. Namun hanya dalam 4 hari, koloni sudah menyebar merata, menutupi seluruh permukaan media dengan warna hijau khas yang menandakan spora telah matang dan siap digunakan.


(Catatan: Foto diambil langsung dari proses fermentasi di lokasi pelatihan)


Mengapa Ini Penting?

Perbanyakan Trichoderma ini bukan hanya sekadar eksperimen laboratorium — ini adalah solusi nyata untuk masalah nyata di lapangan. Para petani di Kupang, khususnya yang membudidayakan jambu mente, seringkali menghadapi serangan penyakit akar yang merugikan. Dengan memiliki stok Trichoderma sendiri, mereka tidak lagi bergantung pada pestisida kimia atau produk impor yang mahal.

Selain itu, proses perbanyakan ini:

  • Murah dan mudah: Hanya butuh bahan lokal dan waktu 7–10 hari.
  • Ramah lingkungan: Tidak meninggalkan residu berbahaya.
  • Mandiri: Petani bisa membuatnya sendiri, kapan pun dibutuhkan.

🚀 Langkah Selanjutnya

Hasil perbanyakan ini akan segera diaplikasikan di lahan petani peserta pelatihan. Kami juga akan mendampingi mereka dalam monitoring dampaknya terhadap pertumbuhan tanaman dan tingkat serangan penyakit.

Di masa depan, kami berharap model ini bisa direplikasi di desa-desa lain, sehingga setiap petani bisa menjadi produsen APH lokal — mandiri, berkelanjutan, dan berdampak nyata!


🙏 Terima Kasih

Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat:

  • UPTD PKDLHP & LL Kupang atas kerja sama dan fasilitasnya.
  • BBP2TP (Ibu Roosma dan Ibu Endang) atas ilmu dan pendampingannya.
  • Petani Kelompok Nekemolo yang antusias dan mau belajar.
  • Dan tentunya, semua pihak yang percaya bahwa pertanian masa depan harus berbasis alam dan kemandirian petani.

Jika kamu tertarik untuk belajar membuat Trichoderma sendiri, atau ingin kami datang ke kelompok tani di daerahmu — silakan hubungi kami di kolom komentar atau melalui email kami labhayati@gmail.com

Mari kita bersama-sama wujudkan pertanian yang sehat, lestari, dan berdaya!

🌱 Belajar Bukan Untuk Sekolah, Melainkan Untuk Hidup.

#Trichoderma #APH #PertanianOrganik #PetaniMandiri #JambuMente #Kupang #PertanianBerdampak #Biopestisida #SustainableAgriculture #AgroTeknologi #NusaNipa #TeamTeaching #IlmuHamaDanPenyakitTanaman

 

Jumat, 17 Oktober 2025

Pelatihan Perbanyakan Agens Hayati Trichoderma

Hari ini, 16 Oktober 2025, dilaksanakan Pelatihan Perbanyakan Agens Pengendali Hayati (APH) Trichoderma) di Kelompok Tani Nekemolo, Desa Taebenu, Kabupaten Kupang. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang petani, penyuluh pertanian, serta petugas laboratorium dari Kabupaten dan Kota Kupang, yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mempelajari teknologi pertanian berkelanjutan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh UPTD PKDLHP (Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Keamanan Dan Lingkungan Hidup Pertanian) melalui Laboratorium Lingkungan (LL) Kupang, bekerja sama dengan tim dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBP2TP), yaitu Ibu Roosma dan Ibu Endang, yang bertindak sebagai narasumber ahli. Turut mendampingi pelaksanaan kegiatan adalah Ibu Dewi Manek selaku Kepala UPTD, Ibu Yeane selaku Kasie Laboratorium Hayati, serta staf ASN dari LL Kupang dan Sub Laboratorium Baunata.

Tujuan Kegiatan

Pelatihan ini bertujuan untuk:

  • Meningkatkan kapasitas petani dalam mengenal, mengembangkan, dan mengaplikasikan Trichoderma sebagai agens hayati pengendali penyakit tanah.
  • Memberikan keterampilan praktis dalam perbanyakan Trichoderma secara mandiri menggunakan bahan-bahan lokal dan sederhana.
  • Mendukung budidaya jambu mente di Kabupaten Kupang yang rentan terhadap penyakit akar seperti layu fusarium, dengan pendekatan ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Rangkaian Aktivitas

  1. Sesi Teori: Pengenalan Trichoderma
    • Narasumber dari BBP2TP menjelaskan peran Trichoderma sebagai jamur antagonis yang mampu menghambat pertumbuhan patogen tanah seperti Fusarium, Rhizoctonia, dan Pythium.
    • Dipaparkan manfaat Trichoderma dalam meningkatkan pertumbuhan akar, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap stres biotik dan abiotik.
  1. Demonstrasi Praktik Perbanyakan Trichoderma
    • Tim memandu peserta dalam proses pembuatan media perbanyakan menggunakan bahan lokal seperti dedak, sekam padi, dan air kelapa.
    • Dilakukan inokulasi Trichoderma murni ke media steril, kemudian dicampur merata dan dimasukkan ke dalam kantong polietilen untuk fermentasi selama 7–10 hari.
    • Peserta diajarkan cara menyimpan kultur, memastikan kebersihan alat, serta menghindari kontaminasi selama proses fermentasi.
  2. Diskusi dan Tanya Jawab
    • Petani aktif bertanya mengenai cara aplikasi Trichoderma di lahan jambu mente, dosis yang tepat, waktu penanaman, serta tanda-tanda keberhasilan.
    • Diberikan solusi praktis untuk kendala lapangan, seperti kondisi tanah kering atau serangan penyakit akar.
  3. Penyerahan Starter Trichoderma
    • Setiap peserta diberikan starter Trichoderma dan panduan cetak sebagai modal awal untuk mempraktikkan apa yang telah dipelajari di rumah masing-masing.

Makna dan Dampak

Pelatihan ini merupakan langkah nyata dalam penguatan sistem pertanian berbasis bioinput lokal, sekaligus mendorong kemandirian petani dalam mengelola kesehatan tanah tanpa bergantung pada bahan kimia sintetis. Dengan fokus pada komoditas jambu mente, yang menjadi andalan di wilayah Kabupaten Kupang, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, menekan kerugian akibat penyakit, dan membuka peluang ekonomi bagi petani.

Kolaborasi antara UPTD, laboratorium daerah, dan lembaga pusat (BBP2TP) juga menunjukkan sinergi yang kuat dalam penyebaran inovasi pertanian ke tingkat tapak, menjadikan ilmu pengetahuan tidak hanya milik laboratorium, tetapi benar-benar hadir di tengah-tengah masyarakat petani.