My Room Corry Mola
Senin, 02 Februari 2026
Laporan Observasi Perkembangan Trichoderma
Jumat, 30 Januari 2026
observasi perkembangan APH Trichoderma hasil eksplorasi Kupang
pengamatan dan indentifikasi serangan hama dan penyakit pada tanaman terung
Senin, 17 November 2025
Pengamatan Hasil Perbanyakan Massal Trichoderma
Hari ini dilakukan pengamatan terhadap hasil perbanyakan massal Trichoderma yang telah dikemas dalam kantong plastik bening ukuran 1 kg dan diberi label untuk keperluan distribusi dan aplikasi di lapangan. Pengemasan ini merupakan tahap akhir dari proses produksi APH (Agen Pengendali Hayati) berbasis mikroba lokal, guna memudahkan penyimpanan, pendistribusian, dan penggunaan oleh petani.
Pada permukaan bagian dalam kantong plastik terlihat butiran-butiran
air seperti embun, yang merupakan fenomena kondensasi uap air. Hal ini terjadi
karena:
- Selama
proses fermentasi padat (yakni menggunakan dedak dan sekam sebagai
media), Trichoderma melakukan aktivitas metabolik yang menghasilkan
panas dan uap air.
- Meskipun
fermentasi sudah selesai, mikroorganisme masih dalam kondisi aktif dan respirasi
mikroba terus berlangsung, menghasilkan kelembaban dalam bentuk uap.
- Ketika
uap tersebut bertemu dengan dinding plastik yang lebih dingin (karena suhu
lingkungan lebih rendah), maka terjadilah pengembunan (kondensasi),
membentuk tetesan air di bagian dalam kemasan.
Kondensasi seperti ini termasuk hal yang wajar dan justru menjadi indikator bahwa:
- Mikroba
masih aktif dan hidup. Aktivitas metabolik menghasilkan uap air.
- Kelembaban
media masih terjaga. Kondisi lembab sangat penting untuk menjaga
viabilitas Trichoderma selama penyimpanan.
- Proses
fermentasi berlangsung baik tanpa kontaminasi berat.
Namun, perlu diperhatikan:
- Jika
jumlah air terlalu banyak, bisa menyebabkan pembusukan atau pertumbuhan
bakteri/kapang tidak diinginkan.
- Warna
kultur harus tetap hijau kehijauan (spora Trichoderma) tanpa bercak
hitam, merah, atau lendir kuning mencurigakan.
- Aroma
tidak busuk atau menyengat, melainkan asam ringan khas fermentasi.
📌 Rekomendasi Penyimpanan
Untuk menjaga kualitas produk:
- Simpan
kemasan di tempat kedap cahaya, sejuk, dan berventilasi baik.
- Hindari
penyimpanan terlalu lama; gunakan dalam waktu 2–4 minggu setelah produksi.
- Jika
akan disimpan lebih lama, bisa dikeringkan secara perlahan atau disimpan
di suhu rendah (tetapi tidak dibekukan).
Kesimpulan
Adanya butiran air seperti embun di dalam kemasan Trichoderma
adalah fenomena alami akibat aktivitas respirasi mikroba dan perbedaan suhu.
Asalkan tidak disertai tanda-tanda kerusakan (bau busuk, warna aneh,
kontaminasi), kondisi ini menunjukkan bahwa produk masih aktif dan berkualitas
baik untuk digunakan sebagai agens hayati dalam mendukung pertanian organik dan
berkelanjutan.
Kamis, 23 Oktober 2025
Identifikasi Mikoriza
Saat kita melihat tanaman lombok yang tumbuh subur, seringkali fokus hanya pada daun, batang, dan buahnya. Namun, ada dunia tersembunyi yang bekerja keras di balik layar — di akar tanaman, tempat sebuah simbiosis luar biasa sedang berlangsung: Mikoriza.
Hari ini, saya ingin berbagi hasil pengamatan mikroskopis dari irisan akar lombok yang telah diwarnai menggunakan teknik pewarnaan standar, untuk mengetahui apakah jamur Mikoriza sudah membentuk hubungan simbiosis dengan tanaman.
🔍 Apa Itu Mikoriza?
Mikoriza adalah asosiasi simbiotik antara jamur tanah dan akar tanaman. Jamur ini memperluas jaringan akar secara alami, membentuk "jaringan internet tanah" yang membantu tanaman menyerap air dan hara — terutama fosfor, yang sulit larut dalam tanah. Sebagai imbalannya, tanaman memberikan karbohidrat hasil fotosintesis kepada jamur.
Dalam pertanian organik dan berkelanjutan, keberadaan Mikoriza adalah indikator utama kesehatan tanah dan sistem ekologi yang seimbang.
📸 Hasil Pengamatan Mikroskopis
Pada gamnar yang adalah hasil pengamatan dari irisan melintang akar lombok yang telah diwarnai untuk menonjolkan struktur jamur. Apa yang tampak?
- Terlihat struktur benang-benang halus berwarna biru tua/hijau kebiruan yang menyebar di antara sel-sel korteks akar.
- Beberapa hifa bahkan tampak menembus dinding sel dan masuk ke dalam sitoplasma, ciri khas dari kolonisasi jamur Mikoriza arbuskular (AMF).
- Pola percabangan dan distribusi hifa sangat konsisten dengan aktivitas Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF), jenis Mikoriza yang paling umum pada tanaman pertanian seperti lombok.
Artinya: Ya, ada indikasi kuat keberadaan Mikoriza!
Namun, perlu dicatat bahwa untuk konfirmasi definitif, kita harus mencari struktur spesifik seperti:
- Arbuskula: struktur bercabang seperti pohon kecil di dalam sel akar (tempat pertukaran nutrisi).
- Vesikula: struktur bulat sebagai penyimpanan energi oleh jamur.
Struktur-struktur ini belum terlihat jelas dalam gambar, mungkin karena resolusi, sudut pandang, atau tahap kolonisasi yang masih awal.
✅ Apakah Ini Benar-Benar Mikoriza?
Berdasarkan morfologi dan pola penyebaran, sangat besar kemungkinan ini adalah Mikoriza, bukan kontaminan atau jamur dekomposer biasa. Ciri-ciri berikut mendukung identifikasi ini:
- Hifa masuk ke dalam jaringan akar, bukan hanya di permukaan.
- Pertumbuhan intraseluler menunjukkan interaksi aktif antara jamur dan sel tanaman.
- Pewarnaan berhasil menonjolkan jaringan jamur dalam jaringan hidup, bukan sekadar residu di luar akar.
Tapi, karena ini baru satu bidang pandang, kita belum bisa menyimpulkan 100% tanpa analisis lebih lanjut.
🛠️ Langkah Selanjutnya
Untuk memastikan dan mengukur tingkat kolonisasi, disarankan:
- Lakukan pengamatan di bidang pandang yang berbeda.
- Lakukan penyaringan bertingkat.
- Lakukan pengecatan akar.
- Gunakan kontrol positif dan negatif jika memungkinkan (tanaman yang dipastikan terkolonisasi dan tidak terkolonisasi).
🌱 Mengapa Ini Penting Bagi Petani?
Keberadaan Mikoriza berarti:
- Tanah masih memiliki aktivitas biologis yang baik.
- Tanaman lebih efisien menyerap hara, sehingga bisa mengurangi pupuk kimia.
- Ketahanan terhadap stres lingkungan (kekeringan, penyakit) meningkat.
- Sistem pertanian mulai menuju kemandirian ekologis.
Jika menemukan Mikoriza di lahan, itu adalah tanda bahwa tanah masih “hidup” — dan itu adalah kabar gembira!
💬 Penutup
Temuan ini adalah angin segar bagi upaya penerapan pertanian berbasis hayati di NTT. Melihat Mikoriza tumbuh di akar lombok berarti bahwa praktik budidaya yang ramah lingkungan — seperti penggunaan pupuk organik, rotasi tanaman, dan minimnya pestisida — sudah mulai membuahkan hasil nyata di tingkat mikroskopis.
Mari terus dorong pertanian yang tidak hanya produktif, tapi juga harmonis dengan alam.
Selasa, 21 Oktober 2025
Hasil Perbanyakan Trichoderma di Kelompok Tani Nekemolo
Halo teman-teman pecinta pertanian dan penggiat pertanian organik!
Kali ini saya ingin berbagi cerita sukses yang sangat
menggembirakan — hasil perbanyakan Trichoderma lokal yang baru saja kami
lakukan bersama petani di Kelompok Tani Nekemolo, Desa Taebenu, Kabupaten
Kupang, sebagai bagian dari pelatihan APH (Agen Pengendali Hayati) pada tanggal
16 Oktober 2025.
🌱 Apa Itu Trichoderma?
Bagi yang belum tahu, Trichoderma adalah jamur
bermanfaat yang hidup di tanah dan dikenal sebagai “penjaga akar” karena
kemampuannya menyerang dan menghambat pertumbuhan jamur patogen penyebab
penyakit tanaman, seperti Fusarium, Rhizoctonia, dan Pythium.
Selain itu, Trichoderma juga bisa merangsang pertumbuhan akar dan
meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman — jadi benar-benar “superhero”
alami di dunia pertanian!
📅 Proses Perbanyakan: 16–20 Oktober
2025
Setelah
pelatihan teori dan praktik langsung di lapangan, para petani mulai
mempraktikkan perbanyakan Trichoderma menggunakan media sederhana
seperti dedak, Serbuk gergaji dan beras. Media ini disterilkan menggunakan
pemanasan (dikukus) selama kurang lebih 4-5 jam lalu diinokulasi dengan kultur
murni Trichoderma dan disimpan di tempat teduh selama 4-7 hari.
Dan inilah
hasilnya:
Dari putih
kehijauan… menjadi hijau tua yang lebat!
Foto-foto di bawah ini menunjukkan perkembangan koloni Trichoderma
dari hari ke hari. Pada hari pertama (16 Oktober), pertumbuhan masih sedikit
dan berwarna putih kehijauan. Namun hanya dalam 4 hari, koloni sudah menyebar
merata, menutupi seluruh permukaan media dengan warna hijau khas yang
menandakan spora telah matang dan siap digunakan.
(Catatan: Foto diambil langsung dari proses fermentasi di lokasi pelatihan)
✅ Mengapa Ini Penting?
Perbanyakan
Trichoderma ini bukan hanya sekadar eksperimen laboratorium — ini adalah
solusi nyata untuk masalah nyata di lapangan. Para petani di Kupang, khususnya
yang membudidayakan jambu mente, seringkali menghadapi serangan penyakit akar
yang merugikan. Dengan memiliki stok Trichoderma sendiri, mereka
tidak lagi bergantung pada pestisida kimia atau produk impor yang mahal.
Selain itu,
proses perbanyakan ini:
- Murah dan mudah: Hanya butuh
bahan lokal dan waktu 7–10 hari.
- Ramah lingkungan: Tidak
meninggalkan residu berbahaya.
- Mandiri:
Petani bisa membuatnya sendiri, kapan pun dibutuhkan.
🚀 Langkah
Selanjutnya
Hasil perbanyakan ini akan segera diaplikasikan di lahan
petani peserta pelatihan. Kami juga akan mendampingi mereka dalam monitoring
dampaknya terhadap pertumbuhan tanaman dan tingkat serangan penyakit.
Di masa depan, kami berharap model ini bisa direplikasi
di desa-desa lain, sehingga setiap petani bisa menjadi produsen APH lokal —
mandiri, berkelanjutan, dan berdampak nyata!
🙏 Terima Kasih
Terima
kasih kepada semua pihak yang terlibat:
- UPTD PKDLHP & LL Kupang
atas kerja sama dan fasilitasnya.
- BBP2TP (Ibu Roosma dan Ibu
Endang) atas ilmu dan pendampingannya.
- Petani Kelompok Nekemolo yang
antusias dan mau belajar.
- Dan tentunya, semua pihak yang
percaya bahwa pertanian masa depan harus berbasis alam dan kemandirian
petani.
Jika kamu
tertarik untuk belajar membuat Trichoderma sendiri, atau ingin kami
datang ke kelompok tani di daerahmu — silakan hubungi kami di kolom komentar
atau melalui email kami labhayati@gmail.com
Mari kita
bersama-sama wujudkan pertanian yang sehat, lestari, dan berdaya!
🌱 Belajar Bukan Untuk Sekolah, Melainkan Untuk Hidup.
#Trichoderma
#APH #PertanianOrganik #PetaniMandiri #JambuMente #Kupang #PertanianBerdampak
#Biopestisida #SustainableAgriculture #AgroTeknologi #NusaNipa #TeamTeaching
#IlmuHamaDanPenyakitTanaman
Jumat, 17 Oktober 2025
Pelatihan Perbanyakan Agens Hayati Trichoderma
Hari ini, 16
Oktober 2025, dilaksanakan Pelatihan Perbanyakan Agens Pengendali Hayati (APH) Trichoderma)
di Kelompok Tani Nekemolo, Desa Taebenu, Kabupaten Kupang. Kegiatan ini diikuti
oleh 30 orang petani, penyuluh pertanian, serta petugas laboratorium dari
Kabupaten dan Kota Kupang, yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mempelajari
teknologi pertanian berkelanjutan.
Kegiatan
ini diselenggarakan oleh UPTD PKDLHP (Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan
Keamanan Dan Lingkungan Hidup Pertanian) melalui Laboratorium Lingkungan (LL)
Kupang, bekerja sama dengan tim dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi
Tanaman Perkebunan (BBP2TP), yaitu Ibu Roosma dan Ibu Endang, yang bertindak
sebagai narasumber ahli. Turut mendampingi pelaksanaan kegiatan adalah Ibu Dewi
Manek selaku Kepala UPTD, Ibu Yeane selaku Kasie Laboratorium Hayati, serta
staf ASN dari LL Kupang dan Sub Laboratorium Baunata.
Tujuan Kegiatan
Pelatihan ini bertujuan untuk:
- Meningkatkan
kapasitas petani dalam mengenal, mengembangkan, dan mengaplikasikan Trichoderma
sebagai agens hayati pengendali penyakit tanah.
- Memberikan
keterampilan praktis dalam perbanyakan Trichoderma secara mandiri
menggunakan bahan-bahan lokal dan sederhana.
- Mendukung
budidaya jambu mente di Kabupaten Kupang yang rentan terhadap penyakit
akar seperti layu fusarium, dengan pendekatan ramah lingkungan dan
berkelanjutan.
Rangkaian
Aktivitas
- Sesi Teori: Pengenalan Trichoderma
- Narasumber dari BBP2TP
menjelaskan peran Trichoderma sebagai jamur antagonis yang mampu
menghambat pertumbuhan patogen tanah seperti Fusarium, Rhizoctonia,
dan Pythium.
- Dipaparkan manfaat Trichoderma
dalam meningkatkan pertumbuhan akar, memperbaiki struktur tanah, dan
meningkatkan ketahanan tanaman terhadap stres biotik dan abiotik.
- Demonstrasi Praktik Perbanyakan
Trichoderma
- Tim memandu peserta dalam
proses pembuatan media perbanyakan menggunakan bahan lokal seperti dedak,
sekam padi, dan air kelapa.
- Dilakukan
inokulasi Trichoderma murni ke media steril, kemudian dicampur
merata dan dimasukkan ke dalam kantong polietilen untuk fermentasi selama
7–10 hari.
- Peserta
diajarkan cara menyimpan kultur, memastikan kebersihan alat, serta
menghindari kontaminasi selama proses fermentasi.
- Diskusi dan Tanya Jawab
- Petani
aktif bertanya mengenai cara aplikasi Trichoderma di lahan jambu
mente, dosis yang tepat, waktu penanaman, serta tanda-tanda keberhasilan.
- Diberikan
solusi praktis untuk kendala lapangan, seperti kondisi tanah kering atau
serangan penyakit akar.
- Penyerahan Starter Trichoderma
- Setiap peserta diberikan
starter Trichoderma dan panduan cetak sebagai modal awal untuk
mempraktikkan apa yang telah dipelajari di rumah masing-masing.
Makna dan
Dampak
Pelatihan
ini merupakan langkah nyata dalam penguatan sistem pertanian berbasis bioinput
lokal, sekaligus mendorong kemandirian petani dalam mengelola kesehatan tanah
tanpa bergantung pada bahan kimia sintetis. Dengan fokus pada komoditas jambu
mente, yang menjadi andalan di wilayah Kabupaten Kupang, kegiatan ini
diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, menekan kerugian akibat penyakit,
dan membuka peluang ekonomi bagi petani.
Kolaborasi
antara UPTD, laboratorium daerah, dan lembaga pusat (BBP2TP) juga menunjukkan
sinergi yang kuat dalam penyebaran inovasi pertanian ke tingkat tapak,
menjadikan ilmu pengetahuan tidak hanya milik laboratorium, tetapi benar-benar
hadir di tengah-tengah masyarakat petani.
-
Hari ini diterima sampel tanaman lokal yang terdiri dari akar, batang, daun, dan buah dari spesies tanaman obat lokal. Sampel ini diberikan...
-
Hari ini dilakukan kegiatan pembuatan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) alami menggunakan bahan-bahan organik dan mikroorganisme bermanfaat. Tujuan ...
-
Testimoni Terobosan Baru di Mbay: Jambu Air 6 Tahun Akhirnya Berbunga Berkat Trichoderma + Beauvaria Sebuah kisah sukses dari Nagekeo yang ...