Jumat, 30 Januari 2026

observasi perkembangan APH Trichoderma hasil eksplorasi Kupang

laporan observasi perkembangan Trichoderma spp. pada media kultur (SDA)

---
Laporan Observasi Perkembangan *Trichoderma spp. (KPG)
*Tanggal Inokulasi: 26 Januari 2026 
*Tanggal Pengamatan: 28 Januari 2026 (Hari ke-2 pasca-inokulasi)*  
*Media: SDA
*Label Sampel: Peremajaan Tricho KPG

Deskripsi Umum
Sebanyak 10 cawan petri telah diinokulasikan dengan isolat Trichoderma spp. (disebut “KPG”) pada tanggal 26 Januari 2026. Pengamatan dilakukan pada hari ke-1 (27 Januari) dan hari ke-2 (28 Januari 2026). 
---
Hasil Pengamatan
Hari ke-1 (27 Januari 2026)  
- Koloni Trichoderma mulai tumbuh sebagai bercak putih berbulu halus (mycelium vegetatif), berpusat di titik inokulasi.
- Terdapat beberapa fokus kecil berwarna hijau kebiruan (khas konidiofor dan konidia Trichoderma), terutama di bagian tengah koloni.
- Diameter rata-rata koloni: ~1.5–2 cm.
- Permukaan media masih jernih, tanpa kontaminasi jamur lain yang signifikan.

Hari ke-2 (28 Januari 2026)
- Pertumbuhan mycelium sangat pesat: koloni telah menyebar hingga ~3.5–4.5 cm diameter (mencapai 60–70% permukaan cawan).
- Warna koloni dominan putih krem (mycelium muda), dengan area sentral yang semakin intens berwarna hijau tua kebiruan  menandakan produksi konidia masif (sporulation aktif).
- Beberapa cawan menunjukkan pola pertumbuhan tidak simetris (misalnya: koloni lebih cepat ke satu arah), kemungkinan akibat variasi suhu, kelembaban lokal, atau posisi inokulasi.
- Tidak terdeteksi kontaminasi oleh mikroba lain (tidak ada bercak kuning, merah, hitam, atau lendir berlebih yang mengindikasikan bakteri atau jamur pengganggu).
- Pada cawan tertentu (misalnya cawan paling kiri atas), koloni tampak sedikit lebih lambat berkembang — perlu dipantau lebih lanjut untuk evaluasi viabilitas isolat.
Interpretasi & Catatan Teknis
- Pola pertumbuhan sesuai karakteristik Trichoderma spp.: cepat, bermycelium padat, dan berkonidiasi hijau khas dalam 48–72 jam pada suhu ruang (25–28°C).
- Warna hijau kebiruan yang konsisten di pusat koloni mengonfirmasi bahwa isolat ini aktif menghasilkan konidia, sehingga siap untuk:
  - Produksi biomassa (untuk formulasi biopestisida/biofertilizer),
  - Subkultur ulang,
  - Uji antagonisme terhadap patogen (misalnya Fusarium, Rhizoctonia).
- Label “Peremajaan Tricho KPG (Hasil Eksplorasi Aph Trichoderma dari tanah di kota Kupang yang sebelumnya pernah diaplikasikan Trichoderma)” mengindikasikan bahwa ini adalah tahap revitalisasi kultur murni sebelum digunakan dalam aplikasi lapangan.
---

Rekomendasi Lanjutan
1. Harvesting Konidia: Jika tujuan adalah produksi spora, panen dapat dilakukan pada hari ke-3 hingga ke-4, saat warna hijau maksimal dan permukaan koloni tampak berdebu (konidial powder).
2. Subkultur: Untuk menjaga viabilitas jangka panjang, lakukan subkultur ke media baru setiap 2–3 minggu.
3. Identifikasi Spesifik: Untuk kepastian taksonomi, disarankan uji molekuler (ITS sequencing) atau mikroskopis (bentuk konidiofor, konidia, chlamydospore).
4. Catatan Log: Simpan data waktu pertumbuhan, diameter koloni harian, dan kondisi inkubasi (suhu, kelembaban) untuk referensi replikasi.

pengamatan dan indentifikasi serangan hama dan penyakit pada tanaman terung

Pengamatan Serangan Hama pada Tanaman Terung
Halaman Kantor – Tanggal: 30 Januari 2026  
Umur Tanaman: ±3–4 bulan

 Kondisi Umum Tanaman
Tanaman terung (Solanum melongena) yang ditanam di halaman kantor menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang cukup baik (daun hijau, batang tegak), namun sejumlah buah mengalami kerusakan signifikan akibat serangan hama. Kerusakan terutama terjadi pada buah yang berada pada tahap mengeras hingga matang, dengan gejala khas yang mengarah pada serangan larva penggerek buah (kemungkinan besar Leucinodes orbonalis— penggerek buah terung, atau Eggplant Fruit Borer).

---
Gejala Kerusakan yang Diamati
1. Kerusakan Eksternal
   - Permukaan buah menunjukkan bercak cokelat kehitaman, mengkilap, dan lunak (berair), sering kali disertai lapisan jamur sekunder (berwarna putih-kuning kecokelatan).
   - Adanya lubang kecil (diameter ~1–2 mm) pada kulit buah, yang merupakan pintu masuk larva.
   - Kulit buah tampak mengelupas atau melekat longgar di area kerusakan.

2. Kerusakan Internal (terlihat pada buah yang dipotong):
   - Rongga besar di dalam daging buah, berisi jaringan yang membusuk, berwarna cokelat gelap, dan berstruktur rapuh/berlubang-lubang.
   - Terdapat sisa-sisa kotoran larva (frass) berupa butiran kecil berwarna cokelat kehitaman.
   - Dalam beberapa kasus, larva masih terlihat aktif di dalam rongga (meskipun tidak tertangkap dalam foto, kehadirannya diduga kuat dari pola kerusakan dan lubang masuk).

3. Perbandingan Buah Sehat vs. Terserang:
   - Foto memperlihatkan dua buah berdampingan: satu masih utuh (hanya sedikit bercak awal), satu lainnya sudah parah rusak.
   - Pada buah yang tergantung di pohon (foto terlampir), terlihat buah yang sudah mengkerut dan membusuk di ujung, sementara buah sebelahnya masih tampak sehat menunjukkan bahwa serangan bersifat sporadik namun progresif.

---
Analisis & Diagnosis Awal
Berdasarkan gejala klinis:
- Pola kerusakan (lubang kecil → rongga internal berisi frass + pembusukan) sangat khas untuk serangan Leucinodes orbonalis (penggerek buah terung), hama utama pada solanaceae di wilayah tropis.
- Kemungkinan lain: Phthorimaea operculella (kupu-kupu kentang) atau Helicoverpa armigera, namun gejala lebih sesuai dengan L. orbonalis karena lokasi serangan dominan pada buah matang dan bentuk rongga yang memanjang mengikuti sumbu buah.
- Faktor pendukung: kelembaban tinggi di halaman (terlihat dari latar belakang rumput lebat & kondisi tanah lembab), serta kurangnya pengelolaan sanitasi (buah busuk dibiarkan tergantung/menempel di tanaman).

---
Rekomendasi Tindak Lanjut
1. Sanitasi Darurat:
   - Segera panen semua buah sehat yang siap.
   - Musnahkan seluruh buah terserang (bakar atau kubur dalam kedalaman >30 cm) untuk memutus siklus hidup hama.

2. Pengendalian Hayati & Kimiawi:
   - Semprotkan Bacillus thuringiensis (Bt) setiap 5–7 hari pada buah muda dan bunga.
   - Jika serangan berat, gunakan insektisida berbahan aktif spinosad atau chlorantraniliprole (dengan rotasi bahan aktif untuk hindari resistensi).
   - Pasang perangkap feromon untuk memantau populasi imago.

3. Pencegahan Jangka Panjang:
   - Lakukan crop rotation jika lahan memungkinkan.
   - Gunakan mulsa plastik hitam untuk mengurangi kelembaban permukaan tanah.
   - Perkuat pemantauan rutin (minimal 2x/minggu) pada fase pembungaan dan pengisian buah.

---
Catatan Penting
Serangan ini berpotensi menyebar cepat jika tidak ditangani segera, mengingat umur tanaman sudah memasuki fase produksi maksimal. Kualitas buah yang tersisa masih bisa dipertahankan dengan tindakan cepat dan tepat.